Ini pertama kali aku kondangan ke gedung. Aih, pasti mewah.
Apalagi ini pernikahan anak pimpinan perusahaan tempatku bekerja—termasuk ibu
dan bapakku yang jadi pembantu di rumahnya. Tapi tunggu, aku harus pakai baju
yang mana?
“Ayo, cepat! Bapak sudah ditunggu bosmu buat jaga di luar
gedung,” perintah bapak setelah mendapatiku termangu memandangi lemari.
“Udah, pakai itu aja!” Bapak menunjuk gamis sifon yang
tergantung di luar lemari. Lalu berlalu meninggalkan kamarku. Aku amat sejenak. Ehm… ide bapak bagus juga.
Segera kuraih gamis itu. Menyetrika dan menyiapkan wedges lamaku. Ah, ini
satu-satunya wedges yang kupunya, ucapku dalam hati sambil membersihkan dari
debu-debu. Tiba-tiba petir menyambar. Hujan pun kian deras. Loh! Gimana
berangkatnya? Batinku.
Akhirnya mau tidak mau kami—aku dan bapak—harus menerobos
hujan. Meski sudah sedikit reda, namun percikan banjir di jalanan membuat
wedges dan gamisku basah. Maklumlah kendaraan yang kami bawa adalah sepeda
motor matic. Bukan taksi apalagi mobil. Ah, itu terlalu mewah.
Sesampainya di
pelataran gedung, aku ternganga. Wow! Gedung ini luas sekali, ucapku kagum.
Karena adzan maghrib berkumandang, kami—aku dan bapak yang setengah
basah—segera menuju musala. Setidaknya aku bisa mengeringkan gamisku sebelum
masuk ke dalam, batinku. Sembari berjalan ke musala, kulihat jam di telepon
genggam. Astaga! Masih jam enam, undangan untuk orang kantor kan jam delapan
malam. Lalu aku harus ke mana? Ibu pasti jaga si adik bayi Mbak Manda—kakak
mempelai laki-laki, sedangkan bapak jaga pintu masuk, gerutuku sendiri.
Dengan sedikit terpaksa setelah sholat selesai, aku
mengikuti bapak menjaga pintu masuk. Berdiri beriringan di sebelah bunga-bunga.
Sungguh! Ini hari yang sangat sial. Gamis bagian bawah basah, undangan ternyata
jam delapan dan sekarang harus ikut menjaga pintu masuk. Dan tak sulit bagiku
untuk menemui ibu karena ia berada di ruang khusus keluarga pengantin.
Jam pun mulai beranjak mendekati angka delapan. Aku mulai
sedikit nyaman karena ternyata ada beberapa teman kantor yang telah datang
meski semuanya laki-laki. Setidaknya ada yang mengusir suasana bosan.
“Eh! Itu loh orang-orang kantor sudah datang.” Pak
Arik—salah satu teman kantor—menunjuk pintu yang dilalui beberapa orang. Ah…
akhirnya, mereka datang juga, ucapku lega. Seperti ada beban berat yang
terangkat seketika itu juga.
“Ya, udah Pak Arik. Makasih ya. Saya ke sana dulu,” pamitku
padanya. Ia membalas dengan sebuah anggukan.
Beberapa langkah kemudian, tiba-tiba kakiku ringan. Seperti
tak ada alas kaki yang aku kenakan. Ini kenapa lagi sih? Aku pun menundukkan
kepala ingin mengetahui apa yang terjadi. “Astaga…!” pekikku pelan, “wedges-ku solnya lepas.”
Benar-benar kondangan yang hancur. Mau tidak mau untuk
menutupi malu, aku menyeret langkah mendekati salah satu penjaga pintu. Segera
setelah mendapat jawaban dari petugas penjaga pintu lainnya, aku menuju ruang
keluarga mempelai laki-laki.
“Ibu…,” panggilku sambil membuka pintu ruangan itu. Terlihat
tiga orang dan salah satunya ibuku.
“Kenapa?”
“Wedges-ku lepas solnya. Ibu bawa sandal?” tanyaku memelas.
“Ya gak bawa. Cuma sandal plastik ini yang ibu pakai. Mau
pakai ini?”
Ah… sial lagi, sial lagi. Kenapa hari ini begitu sial, sih?
gerutuku dalam hati. Dengan berat hati aku pun menggunakannya lalu berkumpul
dengan teman kantor yang lain.
Subscribe to:
Comments (Atom)